Cara membuat
- Buat adonan: gabungkan tepung dan garam. Tambahkan air hangat sedikit demi sedikit, uleni 8 menit jadi adonan halus dan kokoh. Tutup dan diamkan 30 menit.
- Buat isian: gabungkan daging cincang, bawang bombay, jahe, bawang putih, cabai, daun ketumbar, jintan bubuk, ketumbar, garam masala, kecap asin, minyak, dan garam dalam mangkuk. Aduk satu arah dengan sendok 90 detik hingga lengket.
- Buat achar (saus celup): bakar tomat di atas api atau di bawah broiler 4 menit hingga kulit melepuh; kupas. Sangrai cabai merah kering sebentar. Blender tomat, cabai, separuh wijen sangrai, garam, dan sejumput jintan jadi chutney kental. Dinginkan. Sisihkan.
- Giling adonan jadi tali panjang; potong jadi 28 bagian. Giling tiap bagian jadi cakram tipis 9 cm, sedikit lebih tebal di tengah; bagian tengah menopang isian, tepi dilipat.
- Tata satu sendok makan penuh isian di tengah tiap kulit. Lipat tepinya keliling isian: pegang pangsit di telapak tangan non-dominan, jepit lipatan dengan tangan dominan, dan lipat sambil diputar. Bentuk momo Nepal bulat dengan lipatan bertemu di puncak, mirip kantung kecil bertali.
- Kukus dalam keranjang bambu beralas kertas roti di atas air mendidih kuat selama 12 menit. Sajikan panas dengan saus celup achar. Makan dengan tangan; masukkan satu momo utuh ke mulut dan gigit hati-hati karena isian masih beruap panas.
Catatan budaya
Momos masuk ke Nepal dari Tibet lewat pedagang Newari berabad-abad lalu, lalu berkembang jadi hidangan sepenuhnya Nepal. Kathmandu punya ribuan toko momo; hidangan ini adalah makan siang dan camilan paling banyak dimakan di kota itu. Achar (saus celup) adalah tanda khas Nepal: tomat-wijen, dengan rasa pedas cabai dan kedalaman rempah sangrai. Momo kerbau (buff) paling tradisional di Kathmandu; ayam lebih umum di Pokhara; momo sayur naik daun sebagai alternatif vegetarian. Kathmandu modern punya 'jhol momo' (dengan kuah kental dituang ke sekelilingnya) dan momo goreng wajan sebagai inovasi.