Cara membuat
- Tiriskan beras yang sudah direndam. Giling jadi pasta halus dengan susu hangat dan air di blender atau food processor. Targetkan adonan kental seperti adonan pancake yang sangat kental.
- Pindahkan ke mangkuk. Aduk dengan tepung beras, gula, pisang lumat, kapulaga, kayu manis, pala, cengkeh, garam, dan ghee yang sudah lunak. Konsistensi adonan harus seperti yogurt kental; encerkan dengan susu lagi jika perlu.
- Tutup dan fermentasi di tempat hangat 4 jam, lebih baik semalaman. Adonan harus berbuih ringan dan tercium aroma fermentasi tipis.
- Panaskan minyak di wok dalam atau kadhai ke 175°C; suhu sangat penting. Terlalu panas, cincin gosong sebelum mengembang; terlalu dingin, tidak akan mengembang sama sekali.
- Tuang adonan ke kantong pipa dengan ujung bulat 1 cm, atau pakai kantong plastik kuat dengan ujungnya digunting kecil. Dengan satu gerakan terus menerus, semprot lingkaran (diameter sekitar 12 cm) ke minyak panas. Adonan akan mengembang langsung dan jadi keemasan pucat.
- Pakai sumpit atau garpu panjang untuk membalik cincin setelah 90 detik; kedua sisi harus jadi keemasan tua. Angkat ke rak. Lanjutkan dengan sisanya. Tumpuk cincin yang sudah dingin; tahan 5 hari di wadah kedap udara. Sajikan suhu ruang dengan yogurt dan acar untuk sarapan.
Catatan budaya
Sel roti adalah manisan festival Nepal; paling lekat dengan Tihar (festival cahaya Hindu) dan Dasain (festival Nepal terpanjang). Tiap keluarga Nepal membuat tumpukan sel roti pada hari-hari besar ini, memberikannya ke kerabat dan mempersembahkannya di kuil. Bentuk lonceng bersifat simbolis; ada yang bilang cincin melambangkan siklus kehidupan, ada yang melihatnya sebagai gelang yang menghias meja festival. Fermentasi sangat penting; tanpa itu cincin tidak mengembang dan jadi padat. Kathmandu modern punya pembuat sel roti komersial, tetapi versi rumahan tetap jadi standar.