Cara membuat
- Haluskan bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, dan serai menjadi pasta halus dengan sedikit air.
- Campurkan pasta dengan ketumbar bubuk, jintan, adas, gula aren, garam, dan minyak. Lumuri dadu daging hingga rata. Masukkan kulkas minimal 4 jam, idealnya semalaman.
- Buat saus kacang: tumis bawang merah, bawang putih, dan cabai untuk saus dalam 3 sendok makan minyak selama 5 menit hingga lunak. Dinginkan, lalu blender bersama kacang tanah, gula aren, asam jawa, dan air hingga jadi saus kental yang halus.
- Pindahkan ke panci. Rebus dengan api kecil selama 8 menit sambil terus diaduk hingga mengental dan minyak mulai naik ke permukaan. Saus seharusnya melapisi sendok — encerkan dengan air bila terlalu kental. Dinginkan.
- Tusukkan daging yang sudah dimarinasi ke tusukan bambu, 4–5 dadu per tusuk, rapat-rapat.
- Bakar di atas arang panas selama 2 menit per sisi sambil diolesi sisa bumbu rendaman. Tepiannya harus gosong sedikit dan dagingnya terkaramelisasi — sate Malaysia dipanggang dengan api keras, bukan lembut. Susun di atas piring. Sajikan dengan saus kacang dalam mangkuk, irisan bawang merah mentah, mentimun, dan ketupat (nasi padat dari anyaman daun palem) atau nasi kukus.
Catatan budaya
Sate adalah warisan bersama Malaysia, Indonesia, dan Singapura — masing-masing mengklaim tradisinya. Sate Malaysia cenderung lebih manis dan lebih dominan kunyit dibandingkan sate Indonesia; kota Kajang di Selangor dikenal di seantero dunia sebagai ibu kota sate, dengan lapak-lapak di sepanjang jalan utama yang sudah membakar sate selama puluhan tahun. Sate sapi adalah ciri khas semenanjung Malaysia; di Indonesia, sate ayam atau kambing lebih umum. Ketupat — nasi padat yang dibungkus anyaman daun palem — adalah pendamping tradisional, beras yang dipadatkan menjadi kubus seukuran sekali suap.