Cara membuat
- Rendam beras ketan di air dingin minimal 6 jam, lebih baik semalaman. Beras harus jadi opaque dan sedikit mengembang. Tiriskan seksama.
- Siapkan kukusan: didihkan air kuat-kuat di moak (atau panci). Huat (keranjang bambu) duduk di atasnya bersama berasnya.
- Tata beras tiris di keranjang bambu; sebar rata jadi satu lapis. Bentuk kerucut huat sengaja begitu: uap naik lewat beras tanpa membanjirinya.
- Tutup dengan tutup kerucut (atau kain). Kukus dengan api sedang-besar 20–25 menit; beras harus berubah dari putih opaque jadi mengkilap transparan dan terasa lengket-empuk saat ditekan antara jari.
- Di tengah jalan (sekitar 12 menit), balik beras di keranjang; jungkir balikkan agar lapisan dasar naik ke atas. Ini memastikan masakan rata; dasar akan terlalu matang kalau tidak.
- Tata ketan matang ke keranjang saji kecil yang dilapisi daun pisang (kalau dipakai). Tutup dengan tutup. Khao niao tetap hangat dan lentur di keranjang selama 2 jam; sajikan di meja dengan tutup tetap pasang antara suapan. Makan dengan tangan kanan: cubit sepotong, celup ke kari atau larb, dan makan.
Catatan budaya
Khao niao adalah nasi pokok Laos; sekitar 95% konsumsi nasi Laos adalah ketan, proporsi tertinggi dari negara mana pun. Kukusan bambu huat adalah bagian dari setiap dapur Laos; ia juga ikon budaya. Makan ketan dengan tangan universal di Laos; pakai garpu dianggap tidak Laos. Nasi disajikan dari keranjang saji kecil sepanjang makan, dengan tamu mengambilnya satu kepalan. Hidangan ini bertahan baik dalam perjalanan: pekerja sawah dan pelancong Laos makan khao niao dari keranjang sepanjang hari. Laos mengekspor ketan unggul; varietas Pakse dan Champasak terkenal.