Cara membuat
- Campur beras yang sudah dicuci, santan, air, serai, daun salam, pandan, jahe, dan garam dalam panci berat atau rice cooker. Cairan harus berada 1.5 cm di atas beras — sedikit kurang dari nasi biasa, karena santan lebih kental.
- Didihkan di atas api sedang-besar tanpa tutup. Saat mendidih, turunkan ke api sekecil mungkin dan tutup rapat.
- Kukus 18 menit tanpa membuka tutup. Nasi matang ketika Anda dapat mencium kelapa dengan jelas dan suara mendidih telah berhenti.
- Matikan api, istirahatkan tertutup 10 menit lagi. Istirahat adalah yang memungkinkan nasi menyerap kelembaban sisa dan menjadi pulen alih-alih basah.
- Buang serai, salam, pandan, dan jahe. Aduk-keroknya nasi dengan garpu — butirannya harus terpisah, sedikit transparan, dan beraroma kelapa.
- Untuk menyajikan: tumpuk nasi uduk di tengah setiap piring. Atur lauk di sekelilingnya: sepotong tempe goreng, tumpukan kecil ikan teri renyah, taburan kacang, telur ceplok, sambal kacang, irisan mentimun, bawang goreng tersebar di mana-mana. Setiap penyantap mengambil sedikit dari semuanya dalam setiap suapan.
Catatan budaya
Nasi uduk adalah kontribusi Jakarta untuk kanon nasi Indonesia — sarapan dan makanan jalanan Betawi (asli Jakarta). Warung pagi klasik menyajikan nasi uduk dengan dua lusin piring kecil; pelanggan membayar untuk apa yang mereka ambil. Pewangi pandan-dan-serai adalah cirinya; tanpa rempah aromatik tersebut, nasi hanya terasa kelapa. Nasi liwet adalah sepupu Solo (Jawa Tengah) yang dibuat berbeda; nasi lemak adalah padanan Melayu. Setiap pulau Indonesia memiliki nasi kelapa kesukaannya, dan pertengkaran tentang mana yang terbaik selalu ada.