Cara membuat
- Dalam mangkuk lebar, gabungkan tepung beras, garam, dan kelapa parut. Aduk dengan ujung jari, gosok kelapa ke tepung sampai tersebar merata.
- Taburkan air hangat secara bertahap di atas campuran, aduk terus dengan ujung jari. Teksturnya harus seperti pasir basah — cukup lembap untuk berbentuk saat dikepalkan, tetapi tidak cukup basah untuk membentuk adonan. Ini tahap kritis; terlalu basah pittu jadi lengket.
- Siapkan kukusan dengan air mendidih kuat. Cetakan pittu (silinder berlubang) duduk di atas lubang kukusan.
- Padatkan campuran beras-kelapa ke cetakan pittu, layer-kan tipis bergantian campuran beras dan kelapa parut bila ingin tampilan pittu bergaris klasik. Padatkan ringan — terlalu rapat dan tidak akan terkukus tembus.
- Kukus dengan api besar selama 15–18 menit. Pittu harus terasa kering, beras matang sepenuhnya, dan lapisan kelapa lembut.
- Dorong pittu matang keluar dari cetakan ke piring. Potong jadi bulat 5 cm. Sajikan langsung dengan santan hangat dituang ke mangkuk, lunu miris di samping, dan sebuah kari. Santap dengan menyobek potongan, mencelup ke santan.
Catatan budaya
Pittu adalah hidangan bersama Sri Lanka dan Tamil Nadu — baik rumah tangga Tamil maupun Sinhala membuatnya, dengan variasi kecil. Versi Tamil sering memakai tepung ragi (jewawut); versi Sinhala memakai tepung beras merah. Hidangan ini sarapan atau makan malam, tidak pernah makan siang dalam tradisi makan Sri Lanka. Padanan dengan santan dan sambol adalah klasik; pittu yang disantap kering tanpa pendamping ini dianggap setengah santapan. Cetakan pittu bambu makin langka di dapur modern; versi logam kini menjadi standar.