Cara membuat
- Campurkan tepung beras, tepung tapioka, tepung maizena, gula, dan garam dalam mangkuk besar.
- Dalam panci, hangatkan santan, air, dan pandan di atas api kecil hingga baru beruap — jangan sampai mendidih, karena santan bisa pecah. Buang daun pandan.
- Tuang campuran santan hangat secara perlahan ke bahan kering sambil dikocok. Adonan harus halus dan sedikit lebih kental dari krim cair. Saring melalui ayakan halus.
- Bagi adonan menjadi dua porsi sama banyak. Aduk sirup mawar atau pewarna merah ke salah satu porsi hingga merata berwarna merah muda. Sisanya biarkan putih.
- Olesi tipis loyang kukus persegi 18 cm dengan minyak. Siapkan kukusan dengan air mendidih kuat.
- Tuangkan satu lapis tipis adonan merah muda (sekitar 100 ml) ke loyang. Kukus 5 menit — lapisan harus mengeras tapi sedikit basah di permukaan. Tuang 100 ml adonan putih di atasnya; kukus 5 menit. Lanjutkan bergantian, tuang setiap lapisan baru di atas yang lama dan kukus 5 menit per lapisan, sampai kedua adonan habis. Hasil akhirnya adalah 9 lapisan bergaris yang bergantian. Dinginkan sepenuhnya (penting — kuih lapis hangat akan lengket). Iris dengan pisau yang dilumuri minyak. Santap sambil mengupas lapis demi lapis dengan jari.
Catatan budaya
Kuih lapis adalah kudapan Peranakan (Nyonya) — versi merah muda-putih khas Malaysia menggemakan kuih lapis Indonesia (yang sering hijau-putih dengan pandan). Aturan visualnya dibangun dengan tangan: 9 lapisan tipis, warna bergantian, masing-masing dimasak terpisah. Ritual menyantapnya — mengupas lapis demi lapis ketimbang menggigit langsung — adalah tradisi rumah tangga Nyonya; struktur berlapis menjadi kenikmatan camilan, bukan sekadar dekorasi. Kuih (Melayu) dan kueh (Hokkien) sebenarnya setara; ejaan menunjukkan tradisi rumah tangga si juru masak.