Taste·Asia

Dhindo

ढिँडो (Ḍhin̐ḍō)

Bubur soba atau millet khas Nepal: pokok mirip polenta yang kental dari kawasan pegunungan, dimakan dengan jari sebagai alat untuk kari sayur, sup gundruk, dan acar. 'Bukan-nasi' tetapi nasi pegunungan tinggi.

Persiapan5 menit
Memasak25 menit
Porsi4
Tingkat kesulitanMudah
nepalhill regionporridgemilletancestral
Dhindo

Cara membuat

  1. Didihkan air kuat-kuat di panci tebal. Tambahkan garam.
  2. Kecilkan api ke sedang. Tuang tepung sekaligus, langsung kocok kuat-kuat agar tidak menggumpal. Campuran akan cepat mengental jadi bubur yang kaku.
  3. Ganti ke sendok kayu. Aduk terus menerus dan kuat-kuat 6 menit; dhindo akan berubah dari bubur abu-abu ungu mentah jadi bubur halus, mengkilap, cokelat tua yang lepas dari sisi panci.
  4. Kecilkan api ke paling kecil. Tutup 10 menit; dhindo terus matang dan rasanya berkembang. Aduk sesekali agar tidak lengket.
  5. Cek dengan mencicipi: kalau masih ada rasa tepung mentah, masak 5 menit lagi. Aduk dengan ghee.
  6. Sendok dhindo ke piring selagi masih panas; cepat sekali memadat. Sajikan dengan kari sayur, sup gundruk, achar segar, dan sedikit ghee di atasnya. Makan dengan jari: jepit sepotong dhindo, celupkan ke kari, dan gigit. Dhindo dimaksudkan dimakan saat itu juga; jadi keras dan kenyal kalau dipanaskan ulang.
Catatan budaya

Dhindo adalah makanan kawasan pegunungan Nepal, daerah di mana nasi dahulu mahal atau tidak tersedia, dan soba atau millet adalah pokok lokal. Hidangan ini diasosiasikan dengan komunitas Magar, Gurung, dan etnis lain, dan kini dilihat sebagai alternatif sehat dari nasi untuk warga Nepal kota. Dhindo soba lebih tradisional di pegunungan rendah; dhindo millet lebih umum di pegunungan tinggi. Restoran Kathmandu modern menyajikannya sebagai alternatif 'pedesaan'.

Lainnya dari Nepal